Kerajinan Perak Kotagede
Ciri khas yang tetap dipertahankan adalah pengerjaan barang kerajinan secara manual, karena sejak jaman dulu sampai sekarang tetap mengandalkan ketrampilan tangan. Sebuah perak lempengan dipahat sedikit demi sedikit dengan lembaran aspal atau lilin atau sebuah kawat perak tipis dipilih satu persatu dan dirangkai sedemikian rupa untuk memperoleh bentuk yang dikehendaki dengan bagian rumit yang perlu dilaspun dikerjakan dengan penuh ketelitian. Sebagian lagi memerlukan proses yang berbeda, misalnya dengan dibakar untuk memperoleh perak bakar yang juga banyak digemari.
Kerajinan perak di daerah Kota Gede ini dalam perkembangannya tak dapat lepas dari sentuhan teknologi serta keragaman desain karena demi mencapai hasil yang lebih baik, dan agar dapat memenuhi selera konsumen yang beragam.
Sebagian besar hasil kerajinan berupa barang-barang yang berbentuk klasik, seperti nampan, piring, sendok-garpu, vas bunga, asbak, tutup gelas dan lain sebagainya. Terdapat pula hasil kerajinan seperti cincin, kalung, giwang dan lainnya. Kebanyakan ornamen kerajinan perak Kota Gede sangat dipengaruhi oleh motif kain batik. Dalam masalah penentuan harga sebuah benda kerajinan perak ini tidak hanya didasarkan besar-kecilnya atau beratnya tetapi juga nilai seni dan tingkat kerumitan dalam pengerjaannya. Sehingga sering didapati harga yang sangat bervariatif antara satu penjual dengan penjual lainnya, tetapi yang pasti lebih murah daripada yang dijual diluar Kota Gede, misal di hotel, geleri atau lainnya di pusat
Kota Tua Sekaligus Sentra Kerajinan Perak
Terletak sekitar 10 kilometer di sebelah tenggara jantung Memasuki Kotagede dari arah utara melalui Gedong Kuning, sebuah jalan kecil diapit bangunan klasik yang berjejer di kedua ruas jalan seakan menjadi pembuka eksotis bagi wisatawan setelah melewati gapura.
Semenjak memasuki wilayah Kotagede, para wisatawan sudah bisa menikmati berbagai kerajinan perak yang dijual di bagian depan rumah penduduk sekaligus galeri (berbentuk Joglo yang biasanya untuk menerima tamu) dengan jenis dan harga yang beraneka ragam.
Kerajinan perak sendiri merupakan budaya turun temurun. Pada awalnya kerajinan di Kotagede berupa emas, perak dan tembaga. Namun seiring waktu, kerajinan peraklah yang paling diminati. Sehingga para pengrajin lebih banyak memilih untuk mengolah perak hingga sekarang. Saat ini, kerajinan ini sudah diekspor ke manca negara terutama Eropa. Dan biasanya permintaan akan melonjak setiap akhir tahun.
Mampirlah ke salah satu galeri untuk melihat berbagai kerajinan, mulai dari perhiasan, benda pajangan atau alat makan dari perak yang dibuat dengan sentuhan artistik para pengukir perak Kotagede, senyuman dan sapaan hangat akan menjadi sambutan yang menyenangkan untuk mengawali perjalanan menelusuri Kotagede.
Makam Pendiri Kerajaan Mataram Kuno
Ke arah selatan perkampungan, terdapat sebuah pasar rakyat yang dikenal dengan sebutan Pasar Gede. Meski bangunannya hanya memakai arsitektur sederhana dan seadanya, pasar tradisional yang dibangun pada masa Panembahan Senopati telah menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi masyarakat mentawisan. Hal ini yang membuat Kotagede dikenal dengan nama Pasar Gede atau Sargede dulunya.Sekitar 50 meter selatan Pasar Gede di jalan Masjid Besar, sebuah gapura dengan benteng panjang melindungi salah satu situs kejayaan Mataram tempo dulu yang masih terawat dengan baik, sebuah Petilasan Kraton Kotagede. Beberapa pohon beringin berjulur panjang yang menandakan usianya yang telah tua seolah menjadi penjaga tempat keramat tersebut. Melewati gapura kedua ada sebuah tembok tinggi sekitar dua meter dengan jalan di kedua sisinya menghalangi pandangan dari gapura ketiga yang menjadi jalan menuju kompleks Masjid Agung.
Di tengah kompleks terdapat Masjid pertama di Kotagede dikelilingi rumah para Abdi Dalem. Masjid tersebut dibangun oleh Sultan Agung bersama masyarakat setempat - yang waktu itu kebanyakan memeluk agama Hindu dan Budha - maka arsitekturnya pun banyak mengadopsi corak khas arsitektur Hindu dan Budha. Salah satunya adalah gapura masjid yang berukiran mirip vihara. Ukiran-ukiran kayu yang menghiasi hampir setiap sudut masjid juga bercorak
Sebelah selatan Masjid terdapat komplek makam para Pendahulu Kerajaan Mataram serta kerabat keluarga kerajaan yang juga merupakan tempat tinggal Ki Ageng Pemanahan dulunya. Terdapat sebuah bangsal duda (sekarang menjadi koperasi) ketika melewati gapura pertama sebelum memasuki gapura kedua.
Melewati gapura kedua sebuah komplek menjadi pembatas sekaligus jalur penghubung menuju makam juga Sendang Saliran (tempat pemandian). Pada komplek ini terdapat kantor, gudang, bangsal pengapit lor dan bangsal pengapit kidul.
Di sebelah barat komplek terdapat sebuah gapura menuju komplek makam. Memasuki komplek ini, wisatawan diwajibkan memakai pakaian adat Jawa dan melaksanakan tahlilan (doa) sebelum membuka makam. Melewati sekitar 720 makam, wisatawan akan dihantar menuju sebuah bangunan utama yang menjadi tempat bersemayam Keluarga Besar Kerajaan. Di antaranya Nyai Ageng Nis dan P. Djoyo Prono yang merupakan eyang dari Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan (ayah dari Panembahan Senopati), Panembahan Senopati hingga Kyai Wonoboyo Mangir, menantu sekaligus musuh Panembahan Senopati yang makamnya setengah berada di luar bangunan menjadi keunikan tersendiri di makam ini. Konon kematian Kyai Ageng Mangir disebabkan kepalanya dibenturkan ke batu yang menjadi singgasana Panembahan Senopati oleh Panembahan sendiri. Batu itu sendiri masih bisa dilihat di sebelah selatan komplek Masjid sekitar 100 meter.
Menurut Pak Muji salah satu Abdi Dalem kepada YogYES, pengunjung biasanya berdoa memohon restu dan keselamatan serta kesuksesan di setiap Makam Raja.
Sementara itu di sebelah selatan makam terdapat tempat pemandian yang terbagi menjadi Sendang Kakung untuk pria dan Sendang Putri untuk wanita. "Menyegarkan diri di tempat ini bisa menjadi penyembuh beberapa penyakit serta memohonkan kesuksesan serta kesejahteraan" tambah Pak Muji.
Rumah Kalang
Setelah menziarahi makam, wisatawan bisa mengunjungi salah satu rumah kuno yang dibangun oleh almarhum Pawiro Suwarno pada 1920-an, yang waktu itu seorang pengusaha kaya di Kotagede. Rumah ini dikenal juga dengan sebutan Rumah Kalang. Orang Kalang merupakan pendatang yang diundang oleh Raja untuk menjadi tukang ukir perhiasan kerajaan.Keunikan Rumah Kalang ini adalah adanya perpaduan unsur Jawa dan Eropa, yaitu joglo yang dijadikan rumah induk terletak di bagian belakang dan di depan bangunan model Eropa. Bangunan Eropa ini cenderung ke bentuk baroque, berikut corak corinthian dan doriq. Sedang pada bangunan joglonya, khususnya pendopo sudah termodifikasi menjadi tertutup, tidak terbuka seperti pendopo joglo rumah Jawa. Relief-relief dengan warna-warna hijau kuning, menunjukkan bukan lagi warna-warna Jawa lagi. Munculnya kaca-kaca warna warni yang menjadi mosaik penghubung antar pilar-pilar, menunjukkan joglo ini memang sudah menerima sentuhan lain.
Rumah bergaya campuran Jawa dan Eropa ini yang sekarang menjadi milik keluarga Ansor terletak sekitar 300 meter di utara Pasar Gede. Sambil menikmati keindahan arsitektur masa lampau, wisatawan juga bisa membeli kerajinan perak yang diukir indah oleh tangan-tangan terampil serta menikmati santapan lezat di rumah keluarga Ansor yang telah dijadikan salah satu galeri perak terbesar di Kotagede serta sebuah restoran tanpa merubah bentuk asli rumah tersebut
http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/places-of-interest/kotagede/
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0307/12/opini/422868.htm
Menelusuri Jejak Perak Kotagede
SIAPA yang tidak mengenal kawasan Kotagede? Sentra kerajinan perak itu telah menjadi brand image tersendiri bagi setiap wisatawan yang datang ke
Selain Kotagede, sebenarnya ada beberapa sentra kerajinan perak lain di Indonesia, seperti Bali dan
Lokasi perajin perak di Kotagede tersebar merata, mulai dari Pasar Kotagede sampai Masjid Agung. Saat ini sekitar 60 toko yang menawarkan berbagai produk kerajinan perak. Sedikitnya ada empat jenis tipe produk yang dijual, yakni filigri (teksturnya berlubang-lubang), tatak ukir (teskturnya menonjol), casting (dibuat dari cetakan), dan jenis handmade (lebih banyak ketelitian tangan, seperti cincin dan kalung).
Untuk memperoleh sebuah bentuk, banyak proses yang harus dikerjakan seorang perajin. Yanto, perajin perak, menjelaskan, tahap paling awal adalah membuat desain, kemudian memindahkan desain itu ke cetakan. Selanjutnya, lempengan kuningan atau tembaga sebagai bahan dasar didrik dengan memakai timah lunak. "Kalau sudah didrik baru dirangkai. Langkah terakhir adalah pelapisan bentuk yang sudah jadi dengan perak melalui proses penyepuhan."
Yanto menambahkan, sebagian bentuk memerlukan proses yang berbeda. Perak lempengan harus dipahat sedikit demi sedikit dengan lembaran aspal atau lilin atau kawat perak tipis, dan dirangkai sedemikian rupa untuk memperoleh bentuk yang dikehendaki.
Kebanyakan ornamen kerajinan perak Kotagede sangat dipengaruhi oleh motif kain batik. Penentuan harga barang kerajinan perak tidak hanya didasarkan pada besar-kecil atau beratnya, tetapi juga nilai seni dan tingkat kerumitan dalam pengerjaannya.
MENURUT para pengusaha perak di Kotagede, kerajinan perak yang digeluti sebagian besar masyarakat wilayah itu bersifat turun-temurun. Awalnya, jumlah perajin hanya beberapa orang, karena usaha mereka hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan perhiasan atau perlengkapan lainnya bagi raja dan kerabat keraton.
Sebelum berkembang menjadi sentra kerajinan perak, Kotagede merupakan ibu
Menurut Rifai, keberadaan perajin perak muncul seiring dengan lahirnya Mataram. "Perpindahan ibu
Masa kejayaan Kotagede sebagai sentra industri perak terjadi pada era 1970-1980. Saat itu, jenis barang didominasi oleh alat-alat makan untuk memenuhi permintaan turis asing. "Apalagi, saat itu belum banyak toko yang menjual produk kerajinan perak," kata Rifai.
Menurut Sutojo, Ketua II Koperasi Produksi Pengusaha Perak Yogyakarta (KP3Y) keberadaan perajin perak di Kotagede juga tak luput dari peran Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang masuk ke
"Berdasarkan data KP3Y tahun 2000, sedikitnya 2.000 orang terlibat langsung dalam mata rantai industri perak di Kotagede. Perajinnya pun tidak hanya dari masyarakat Kotagede, namun sudah meluas. Orang-orang dari Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul banyak datang dan bermukim di Kotagede untuk menjadi perajin perak," papar Sutojo.
Namun, sejak krisis moneter dan maraknya peledakan bom di
Perajin yang masih bertahan tidak lagi mengandalkan perak sebagai bahan
Keterpurukan kerajinan perak Kotagede itu diperparah oleh semakin minimnya minat generasi muda menggeluti usaha itu. Mereka lebih memilih bekerja di sektor yang dinilai praktis dan menjanjikan secara ekonomi, misalnya bekerja sebagai buruh pabrik ataupun pegawai negeri.
Perjalanan historis Kotagede sebagai sentra industri perak memang pernah mengalami masa kejayaan. Namun, saat ini kondisinya tengah terpuruk. Untuk mengembalikan masa kejayaan, sepertinya tidak mudah. Kontribusi dari semua pihak jelas dibutuhkan. Persoalannya, sampai saat ini belum ada langkah konkret untuk menyelamatkan sentra perak tersebut.(ONI/ENY)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0502/24/ekora/1502140.htm
| Kota Kuno dengan Perak Bakarnya ![]() Selain itu dapat disaksikan bangunan-bangunan tua sebagai saksi sejarah pernah adanya kerajaan Mataram Islam didaerah ini sebelum dipindahkan misal gerbang-gerbang Kraton, atau kompleks makam Makam Sapto Renggo atau lebih sering disebut makam Kota Gede. Kunjungan ke makam Kotagede merupakan perjalanan wisata ziarah yang masih berkaitan dengan kunjungan ke obyek-obyek wisata di lingkungan Kraton Yogyakarta. Dalam gedung makam utama, dimakamkan Ngabehi Loring Pasar Sutawijaya, pendiri kerajaan Mataram yang bergelar Panembahan Senopati, yang juga merupakan leluhur atau nenek moyang dari Sultan-sultan yang memerintah Kasultanan Yogyakarta. Selain itu juga terdapat makam ayah bundanya yaitu Ki dan Nyi Ageng Pemanahan, Sultan Hadiwijaya dari kerajaan Pajang yang merupakan ayah angkat beliau dan kerabat istana yang lain. Dalam kompleks makam keluarga raja Mataram ini terdapat pula makam Ki Ageng Mangir, menantu Panembahan Senopati yang juga merupakan musuh Panembahan Senopati. Sekitar seratus meter di sebelah selatan dari kompleks makam ini, masih dapat disaksikan "Watu Gilang" yang konon adalah lantai singgasana Panembahan Senopati yang digunakan untuk mengakhiri hidup Ki Ageng Mangir Wanabaya. Perak Bakar Kerajinan perak juga identik dengan nama Kota Gede karena banyak sekali rumah tangga yang menyandarkan kehidupannya dari kerajinan perak, ada yang kecil-kecilan, dengan tenaga kerja satu-dua orang, namun ada juga yang mempekerjakan hingga 60 orang perajin. Sebenarnya kerajinan perak ini telah dilakukan turun temurun sejak dahulu dan berawal dari pemenuhan kebutuhan akan perhiasan atau perlengkapan lainnya bagi Raja dan Kraton serta kerabat-kerabatnya. Lokasi perajin perak ada di hampir setiap sudut Kota Gede dari pasar Kota Gede hingga Mesjid Agung dan bekas Istana Mataram Islam, terdapat puluhan toko, perajin maupun koperasi kerajinan perak. Ciri khas yang tetap dipertahankan adalah pengerjaan barang kerajinan secara manual, karena sejak jaman dulu sampai sekarang tetap mengandalkan ketrampilan tangan. Sebuah perak lempengan dipahat sedikit demi sedikit dengan lembaran aspal atau lilin atau sebuah kawat perak tipis dipilih satu persatu dan dirangkai sedemikian rupa untuk memperoleh bentuk yang dikehendaki dengan bagian rumit yang perlu dilaspun dikerjakan dengan penuh ketelitian. Sebagian lagi memerlukan proses yang berbeda, misalnya dengan dibakar untuk memperoleh perak bakar yang juga banyak digemari.Kerajinan perak di daerah Kota Gede ini dalam perkembangannya tak dapat lepas dari sentuhan teknologi serta keragaman desain karena demi mencapai hasil yang lebih baik, dan agar dapat memenuhi selera konsumen yang beragam. Sebagian besar hasil kerajinan berupa barang-barang yang berbentuk klasik, seperti nampan, piring, sendok-garpu, vas bunga, asbak, tutup gelas dan lain sebagainya. Terdapat pula hasil kerajinan seperti cincin, kalung, giwang dan lainnya. Kebanyakan ornamen kerajinan perak Kota Gede sangat dipengaruhi oleh motif kain batik. Dalam masalah penentuan harga sebuah benda kerajinan perak ini tidak hanya didasarkan besar-kecilnya atau beratnya tetapi juga nilai seni dan tingkat kerumitan dalam pengerjaannya. Sehingga sering didapati harga yang sangat bervariatif antara satu penjual dengan penjual lainnya, tetapi yang pasti lebih murah daripada yang dijual diluar Kota Gede, misal di hotel, geleri atau lainnya di pusat -kinasih- |


Selain itu dapat disaksikan bangunan-bangunan tua sebagai saksi sejarah pernah adanya kerajaan Mataram Islam didaerah ini sebelum dipindahkan misal gerbang-gerbang Kraton, atau kompleks makam Makam Sapto Renggo atau lebih sering disebut makam Kota Gede. Kunjungan ke makam Kotagede merupakan perjalanan wisata ziarah yang masih berkaitan dengan kunjungan ke obyek-obyek wisata di lingkungan Kraton Yogyakarta. Dalam gedung makam utama, dimakamkan Ngabehi Loring Pasar Sutawijaya, pendiri kerajaan Mataram yang bergelar Panembahan Senopati, yang juga merupakan leluhur atau nenek moyang dari Sultan-sultan yang memerintah Kasultanan Yogyakarta. Selain itu juga terdapat makam ayah bundanya yaitu Ki dan Nyi Ageng Pemanahan, Sultan Hadiwijaya dari kerajaan Pajang yang merupakan ayah angkat beliau dan kerabat istana yang lain. Dalam kompleks makam keluarga raja Mataram ini terdapat pula makam Ki Ageng Mangir, menantu Panembahan Senopati yang juga merupakan musuh Panembahan Senopati. Sekitar seratus meter di sebelah selatan dari kompleks makam ini, masih dapat disaksikan "Watu Gilang" yang konon adalah lantai singgasana Panembahan Senopati yang digunakan untuk mengakhiri hidup Ki Ageng Mangir Wanabaya.
Kerajinan perak juga identik dengan nama Kota Gede karena banyak sekali rumah tangga yang menyandarkan kehidupannya dari kerajinan perak, ada yang kecil-kecilan, dengan tenaga kerja satu-dua orang, namun ada juga yang mempekerjakan hingga 60 orang perajin. Sebenarnya kerajinan perak ini telah dilakukan turun temurun sejak dahulu dan berawal dari pemenuhan kebutuhan akan perhiasan atau perlengkapan lainnya bagi Raja dan Kraton serta kerabat-kerabatnya. Lokasi perajin perak ada di hampir setiap sudut Kota Gede dari pasar Kota Gede hingga Mesjid Agung dan bekas Istana Mataram Islam, terdapat puluhan toko, perajin maupun koperasi kerajinan perak.
Ciri khas yang tetap dipertahankan adalah pengerjaan barang kerajinan secara manual, karena sejak jaman dulu sampai sekarang tetap mengandalkan ketrampilan tangan. Sebuah perak lempengan dipahat sedikit demi sedikit dengan lembaran aspal atau lilin atau sebuah kawat perak tipis dipilih satu persatu dan dirangkai sedemikian rupa untuk memperoleh bentuk yang dikehendaki dengan bagian rumit yang perlu dilaspun dikerjakan dengan penuh ketelitian. Sebagian lagi memerlukan proses yang berbeda, misalnya dengan dibakar untuk memperoleh perak bakar yang juga banyak digemari.
Sebagian besar hasil kerajinan berupa barang-barang yang berbentuk klasik, seperti nampan, piring, sendok-garpu, vas bunga, asbak, tutup gelas dan lain sebagainya. Terdapat pula hasil kerajinan seperti cincin, kalung, giwang dan lainnya. Kebanyakan ornamen kerajinan perak Kota Gede sangat dipengaruhi oleh motif kain batik. Dalam masalah penentuan harga sebuah benda kerajinan perak ini tidak hanya didasarkan besar-kecilnya atau beratnya tetapi juga nilai seni dan tingkat kerumitan dalam pengerjaannya. Sehingga sering didapati harga yang sangat bervariatif antara satu penjual dengan penjual lainnya, tetapi yang pasti lebih murah daripada yang dijual diluar Kota Gede, misal di hotel, geleri atau lainnya di pusat 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar